Warung Penonton

Kabar dari Pasar Klewer (SabdaSpace)

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Andreas Samudra’

Ajaran Andreas Samudra

Posted by warungpenonton pada Oktober 16, 2008

Andereas Samudera dan ajarannya.

1)  Diri Andereas Samudera: kerohanian dan aliran / denominasi.

a)   Andereas Samudera jelas adalah orang dari kalangan Kharismatik, dan kelihatannya pro pada Toronto Blessing dan pada ajaran / praktek ‘tumbang dalam roh’.

Andereas Samudera: “Pengalaman pertama dengan urapan kuasa Roh Kudus saya terima ketika Penginjil Charles W. Doss datang ke Indonesia kedua kalinya yakni kira-kira bulan Juli tahun 1984. Saya mengalami rebah dalam Roh oleh penumpangan tangan beliau. Setelah itu urapan Allah yang kuat menyatakan diri dalam setiap pelayanan saya. Orang-orang rebah dalam Roh dan masuk ke alam roh. Beberapa dari mereka naik kesurga dan menyaksikan tahta Allah dan terang yang besar disana, melihat malaikat-malaikat surgawi, mulai menari dan tertawa dalam roh. Kemudian datanglah Pdt. Win Worley ke Indonesia membawa urapan api dan memulai pelayanan pelepasan yang amat banyak ditentang oleh hamba-hamba Tuhan pada waktu itu. Dari buku-buku dan perjumpaan pribadi dengan beliau saya belajar banyak menghadapi dunia setan-setan. Kemudian Penginjil Joseph Poppell datang ke Indonesia tahun 1987 mentransfer pelayanan kesembuhan mujizat dalam pelayanan saya. Banyak sekali pengalaman dalam dunia roh yang mendorong saya untuk bertanya terus menerus kepada Roh Kudus tentang dasar Firmannya. Dan Ia selalu menjawab dan menerangkan segala sesuatu yang saya tanyakan!

… Sebelum Pdt. Win Worley datang ke Indonesia, hamba-hamba Tuhan di Indonesia tentu telah banyak kali terlibat dalam pelayanan pengusiran setan-setan. Saya sendiri telah belajar melakukan pelayanan pengusiran setan sejak mula-mula memasuki lingkungan kharismatik pada tahun 1970. Tapi saya ingat waktu itu orang mengusir satu setan saja butuh waktu berjam-jam, atau kadangkala berhari-hari. Itupun harus didukung oleh satu tim yang berdoa dan berpuasa. Ketika Win Worley datang, ia mentransfer urapan Roh Kudus yang khas, yakni jenis urapan yang membuat roh-roh bermanifestasi dengan mudah, dan pengetahuan yang lebih lengkap tentang otoritas orang beriman terhadap kuasa kegelapan, hingga pelayanan pengusiran setan yang kemudian lebih populer disebut dengan nama ‘pelayanan pelepasan’ ini menjadi sangat mudah. Hanya dalam beberapa jam seseorang dapat dibebaskan dari kuasa-kuasa kegelapan lebih banyak dari pada dahulu. Kuncinya adalah urapan dan pengetahuan tentang kebenaran Alkitab. …

Pengurapan Roh Kudus membimbing hamba-hamba Tuhan memasuki realita dunia Roh dengan sangat nyata karena manifestasi-manifestasi roh jahat melalui orang-orang yang dilayani. Bersamaan dengan itu realita hadirnya malaikat-malaikat Tuhan juga makin nyata. Tentu saja setiap pengalaman baru disertai dengan hal-hal ekstrim dan menghasilkan ekses-ekses” – ‘Dunia Orang Mati’, hal 11-13.

Komentar saya:Pdt Budi Asali

‘Tumbang dalam roh’ maupun ‘tertawa dan menari dalam Roh’ (Toronto Blessing) jelas merupakan pekerjaan kuasa gelap! Orang-orang yang pro pada Toronto Blessing harus menjawab pertanyaan ini: kalau Toronto Blessing memang merupakan pekerjaan Tuhan, mengapa sekarang boleh dikatakan musnah?

Kalau saudara mau tahu lebih jelas tentang Toronto Blessing bacalah buku saya yang berjudul ‘Toronto Blessing: Alkitabiahkah?’.

Karunia tidak bisa ditransfer! Dasarnya adalah:

*1Kor 7:7 dimana Paulus berkata: “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu”.

*1Kor 12:11 – “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”.

*1Kor 12:18 – “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya”.

*Ro 12:4-8 – “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”.

Ayat-ayat di atas ini menunjukkan bahwa pemberian karunia yang berbeda-beda untuk setiap orang itu dilakukan oleh Tuhan sesuai kehendakNya, dan tidak bisa diatur sesuai kehendak orangnya. Yang harus kita lakukan bukanlah mencari karunia yang tidak kita miliki, tetapi menggunakan karunia yang kita miliki, atau melayani sesuai dengan karunia yang ada pada kita, seperti yang ditekankan Ro 12:4-8 di atas.

Urapan roh juga tidak bisa ditransfer. Makin seseorang menguduskan dirinya, makin ia diurapi oleh Roh Kudus, dan ini tidak mungkin ditransfer kepada orang lain.

Mengapa ‘setiap pengalaman baru tentu disertai dengan hal-hal ekstrim dan menghasilkan ekses-ekses’? Mengapa dalam Kis 2, rasul-rasul bisa mengalami pencurahan dan kepenuhan Roh Kudus yang disertai dengan bahasa roh, yang sekalipun merupakan pengalaman baru bagi mereka, tetapi tidak mengalami hal-hal extrim dan tidak menghasilkan ekses-ekses? Mungkinkah karena itu berhubungan dengan roh yang lain (bdk. 2Kor 11:4)?

b)   Penekanan ‘pengalaman’ dalam kepercayaan, ajaran maupun prakteknya.

Dalam bagian-bagian tertentu dari bukunya yang berjudul ‘Dunia Orang Mati’, ia berkata bahwa Kitab Suci itu penting, dan bahwa pengalaman tidak boleh diajarkan kecuali didukung oleh ayat-ayat Kitab Suci, seperti dalam kutipan-kutipan di bawah ini:

Andereas Samudera: “Banyak sekali pengalaman dalam dunia roh yang mendorong saya untuk bertanya terus menerus kepada Roh Kudus tentang dasar Firmannya” – ‘Dunia Orang Mati’, hal 12.

Andereas Samudera: “Antara Firman Tuhan atau dasar alkitabiah dan pengalaman harus ada keseimbangan. Yang saya maksud adalah bahwa setiap doktrin atau ajaran tentang suatu kebenaran, harus disertai pengalaman yang nyata atau demonstrasi oleh kuasa Roh Kudus. Pengajaran yang tanpa disertai manifestasi Roh Kudus selalu akan menjadi ajaran kering dan mati yang membosankan karena tak riil dan tak dapat dipraktekkan oleh orang beriman.

1Kor 14:20 – Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.

Banyak komentar negatif yang cenderung mengingkari gunanya suatu pengalaman pribadi dengan Roh Kudus untuk menolak pengajaran-pengajaran baru yang muncul akhir-akhir ini. Ungkapan ini populer sekali sekarang: ‘Tidak boleh menjadikan pengalaman pribadi sebagai dasar suatu pengajaran!’ Ungkapan ini tak salah, bahkan saya setuju sekali! Hanya kecenderungan takut bahwa pengalaman pribadi itu selalu sesat, ini tak dapat saya terima. Sebaliknya bila seseorang menemukan suatu kebenaran Alkitab, seharusnya ia belum boleh mengajarkannya kepada orang lain sebelum orang itu sendiri mengalami apa yang diajarkannya, atau setidak-tidaknya didukung oleh pengalaman-pengalaman orang lain. Bila tidak, ajaran itu akan menjadi teoritis saja. Pengajaran Alkitab tanpa dukungan pengalaman adalah pengajaran teoritis yang cenderung tersesat ke dalam interpretasi-interpretasi akal manusia yang menyesatkan. Sebaliknya juga pengajaran-pengajaran yang hanya berdasar pada pengalaman-pengalaman pribadi tanpa didukung kebenaran atau ayat-ayat Alkitab yang tepat juga sangat berbahaya karena setan-setan dapat menyesatkan melalui manifestasi-manifestasinya. Harus ada keseimbangan antara Firman dan pengalaman dengan Roh Kudus” – ‘Dunia Orang Mati’, hal 15-16.

Komentar saya: adalah suatu omong kosong untuk mengatakan bahwa suatu pengajaran dari Alkitab baru boleh diajarkan setelah orangnya mengalaminya, karena kalau tidak maka itu hanya merupakan suatu pengajaran teoritis yang menyesatkan. Kalau demikian bagaimana misalnya dengan:

*ajaran tentang mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan pikiran (Mat 22:37)? Saya yakin tidak ada orang yang bisa mengalami kebenaran ini secara sempurna. Jadi, apakah kita tidak boleh mengajarkannya?

*ayat-ayat Kitab Suci tentang surga dan neraka. Siapa orang yang masih hidup yang pernah mengalaminya? Jadi, apakah itu semua tidak boleh diajarkan?

Andereas Samudera: “2Korintus 13:1 – Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.

Saya setuju dengan Kenneth Hagin yang mengajar orang Kristen tentang iman, bahwa setiap kebenaran Alkitab harus didukung oleh dua atau tiga saksi baru sah untuk diajarkan. Suatu pengalaman pribadi dengan Roh Kudus seringkali menuntun kita masuk ke dalam suatu kebenaran baru yang hendak dinyatakan oleh Roh Kudus kepada GerejaNya. … … Tapi tiap pengalaman itu harus didukung oleh dua atau tiga ayat yang tepat dari Alkitab, baru dapat diajarkan dengan sah. …  Walau begitu kita tetap harus berpegang, sedikitnya harus ada dua atau tiga ayat yang mendukung suatu pengalaman agar dapat diajarkan kepada orang lain. Ini adalah double atau triple precision namanya. Prinsip itu juga yang saya anut dengan ketat selama ini” – ‘Dunia Orang Mati’, hal 16-17.

Tetapi kalau kita membaca bukunya dengan teliti sambil memperhatikan persoalan ini, maka terlihat jelas bahwa Andereas Samudera adalah orang yang tidak terlalu mempedulikan Kitab Suci dan sangat menekankan pengalaman sebagai dasar kepercayaan maupun ajaran dan praktek-praktek yang ia lakukan. Ini terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

Andereas Samudera: “Buku ini ditulis setelah bertahun-tahun saya mengalami pengalaman-pengalaman dengan urapan kuasa Roh Kudus. Pada mulanya saya enggan menuangkan seluruh pengalaman tentang dunia orang mati ke dalam bentuk sebuah buku, karena saya tahu betul ini akan lebih menambah besarnya reaksi dari kalangan orang percaya di mana-mana” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 6.

Ia sendiri yang mengatakan bahwa bukunya ini merupakan pengalamannya!

Andereas Samudera: “Roh-roh berbentuk binatang” - ‘Dunia Orang Mati’, hal 8.

Pertanyaan saya: ini betul-betul sepenuhnya berdasarkan pengalaman, karena mana dasar Kitab Suci tentang adanya ‘roh-roh berbentuk binatang’?

(Bersambung ke Bag 2)

Ditulis dalam Dunia Roh | Dengan kaitkata: | 19 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.