Warung Penonton

Kabar dari Pasar Klewer (SabdaSpace)

Harun Jusuf Membual Karena SHIO Bukan Begini

Harun Jusuf mengaku dirinya adalah mantan peramal Bajie dan Hongsui profesional, menurutnya tingkat ketepatan ramalannya lebih dari 90%. Menurutnya para wanita Tiongkok kuno sangat bodoh sehingga tidak mampu mengingat urutan anak-anaknya. Untuk membantu istrinya yang bodoh itulah seorang suami lalu menciptakan sistem 12 Shio, dengan demikian maka istri-istri bodoh Tiongkok kuno itu lalu dapat mengingat urutan anak-anaknya. Apakah Harun Jusuf sedang membual atau para istri Tiongkok kuno itu memang demikian bodoh, atau Harun jusuf sendiri yang bodoh sehingga mengajarkan hal yang demikian bodoh?

Memberanikan diri bertanya; Dalam bukunya yang berjudul Pertobatan Mantan Peramal dan Hong Sui, Harun Jusuf menulis:

Pada mulanya Shio tidak digunakan untuk ramal-meramal, tetapi dipakai untuk mengingat susunan anak dari yang sulung sampai yang bungsu. Pada jaman dahulu, di Tiongkok tidak digunakan penanggalan yang seperti sekarang. Tahun, bulan, tanggal, dan jam tidak ditulis dengan angka, tetapi dengan huruf mandarin. Itulah sebabnya ilmu Kwa Mia dan Hongsui tidak menggunakan angka-angka tetapi huruf. Untuk meramal digunakan Pek Jie (8 Huruf). Demikian juga dalam kompas Hong Sui (Lau Pan) tidak digunakan angka, tetapi huruf. Pertobatan Mantan Peramal dan Hong Sui hal 87

Karena tanggal kelahiran dulu menggunakan huruf, maka sang ibu tidak mungkin mengingat umur anaknya, sebab kaum wanita zaman itu tidak diperbolehkan sekolah, sedangkan anak mereka banyak, bahkan ada yang sampai belasan. Jadi untuk mengingat anak yang keberapa, para suami mencari jalan yang mudah diingat oleh sang ibu sehingga digunakan hafalan dari cerita mitos dua belas Shio binatang untuk menandakan susunan anak mereka. Karena diawali dengan si Tikus dan diakhiri si Babi, maka anak pertama disebut Shio tikus dan selanjutnya. Bila anaknya lebih dari dua belas itu tidak menjadi masalah (maklum dulu tidak ada KB), karena itu ada Tikus air, Tikus Tanah, Tikus Mas dan sebagainya menurut lima unsur. Sampai sekarang masih ada orang tua yang tidak ingat umur anaknya, tetapi jika kita bertanya kepada mereka, mereka akan menjawabnya dengan menggunakan Shio. Ibid. hal 88


Bengcu menjawab:

Orang yang tahu bahwa dirinya tahu adalah orang pinter, orang yang tahu bahwa dirinya tidak tahu (lalu mencari tahu) adalah orang bijaksana, orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu adalah orang bodoh, sedangkan orang yang tahu dirinya tidak tahu namun tidak mau tahu dan berfikir orang lain tidak tahu lalu berprilaku seolah-olah dia paling tahu adalah orang sok tahu dan (maaf) bebal yang nekad.

Bapak Harun Jusuf yang terhormat, apabila anda tidak pandai, tolong jangan menganggap orang lain lebih bodoh lalu membual semaunya. Anda mengajarkan bahwa di dalam huruf mandarin tidak ada angka, hanya huruf. Sebenarnya tidak perlu menjadi ahli untuk mengetahui bahwa anda sedang membual, karena di dalam bahasa mandarin juga dikenal penggunaan angka. Inilah contohnya:

AngkaTionghua

Bapak Harun Jusuf yang bijaksana, dari mana anda belajar bahwa Shio awalnya adalah cara yang diajarkan oleh para suami kepada istrinya untuk mengingat susunan anak mereka? Saya sudah ubek-ubek mencari di dalam kamus, ensiklopedia, internet, bahkan bertanya kepada para ahli Tiongkok, namun nampaknya andalah satu-satunya orang di dunia yang mengajarkan hal ngawur itu. Mustahil anda menerima pengajaran itu langsung dari Allah.

Apabila Shio memang cara untuk mengingat susunan anak, bukankah semua anak sulung orang Tionghua pasti shionya tikus? Nampaknya anda benar-benar nekad menganggap semua pembaca buku anda benar-benar bodoh sehingga mengajarkan hal ngawur tersebut.

Mengingat urutan anak-anak jelas tidak ada hubungannya dengan kemampuan membaca. Untuk mengingat urutan anak-anaknya, seorang wanita tidak perlu membaca, tak peduli anaknya sepuluh atau lima puluh, mustahil seorang Ibu lupa urutan anaknya.

Yang bodoh itu siapa, wanita Tiongkok kuno atau anda, pak Harun? Yang paling bodoh jelas mereka yang percaya cerita anda bahwa wanita Tiongkok kuno bodoh-bodoh sehingga tidak mampu mengingat urutan anak-anaknya, sehingga suaminya terpaksa menggunakan hafalan dari cerita mitos dua belas Shio untuk membantunya mengingat susunan anak mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: